Oleh: Viola Oyong
Ketika hati ini menjadi bersih, segala tindakan dan hari-harimu akan menjadi begitu indah. Tidak ada hal yang lebih menyenangkan selain dapat berkumpul bersama keluarga tercinta. Setiap raga yang berkumpul dan hati yang menyatu menjadi satu, membuat segala sesuatunya terasa begitu hangat dan nyaman. Senyuman tulus dan tawa canda mengisi batin yang selama ini penuh dengan kesibukan dan kepentingan diri sendiri. Ketika tidak ada satu insanpun yang tidak tersenyum di ruang keluarga itu, ternyata di luar sana ada keluarga lain yang hanya merayakan hari kemenangan Idul Fitri dengan makanan seadanya di tempat berlindung yang tidak pantas lagi disebut “rumah” karena tidak cukup kokoh melindungi raga dari hujan dan teriknya mentari disiang itu.
8 September 2010, dua hari sebelum hari kemenangan tiba. Siang itu langit tampak berawan tentu saja tak lama lagi hujan akan turun. Saya berjalan ditepian jalan yang cukup ramai kendaraan di daerah Gading Serpong dengan tujuan Jakarta Barat untuk berkumpul bersama keluarga. Saya memutuskan untuk naik kendaraan umum agar dapat mengamati dan merasakan suasana menjelang Lebaran. Sebuah angkot berwarna kuning yang saya tumpangi tiba-tiba berhenti mendadak diikuti dengan suara teriakan para penumpang. APA YANG TERJADI? Tepat di hadapan kami dua orang pengendara sepeda motor sedang saling pukul karena senggolan kecil yang tidak sengaja terjadi saat itu. Warga setempat dengan seketika berusaha menghentikan adegan “action” di jalanan itu. Suasana angkot mendadak sepi...hening. Semua orang sibuk dengan pikirannya sendiri...memikirkan apa yang baru saja mereka lihat. Ternyata suasana bulan puasa masih saja diisi dengan emosi jiwa yang membara. Bukankah ini bulan penuh maaf dan bulan penuh berkah?
Pertulanganku hari itu belum usai. Perjalanan menuju Jakarta saya lanjutkan dengan sebuah bus. Jakarta kembali diguyur hujan lebat. Bus dari Tangerang menuju Jakarta yang biasanya tidak pernah sepi, kini terasa sangat longgar. Mungkin karena hujan atau juga karena orang-orang sudah pada mudik ke kampung halaman. Namun, saya tetap ditemani dengan suasana khas bus Jakarta yang tidak akan pernah hilang...pengamen jalanan, penjual makanan, dan penjual barang-barang lainnya. Hati ini kembali bertanya apa mereka semua tidak ikut mudik? Bagaimana ya mereka merayakan Lebaran?
Mall Taman Anggrek Jakarta Barat. Hujan masih saja turun dengan derasnya. Butiran air seolah-olah sedang berlomba-lomba untuk menghantam bumi. Saya turun bus dengan adegan berlari sambil menutupi kepala. Ya Tuhan! Ternyata banyak bocah-bocah membawa payung untuk disewakan...”ojek payung” sebutan bekennya. Selama tinggal di Batam saya tidak pernah melihat ada pekerjaan ojek payung anak-anak ini. Kasihan sekali mereka harus kedinginan dan basah kuyup demi mendapatkan tiga ribu bahkan seribu rupiah saja. Lagi-lagi hati ini penuh tanya. Bagaimana kalau mereka jatuh sakit? Dimana orang tua mereka? Apa mereka tidak ikut merayakan bahagia Lebaran? Miris.
Gema Takbir telah menggema di seluruh jagat raya dan hari kemenangan pun tiba. Semua umat muslim merayakan hari kemenangan setelah selama satu bulan penuh menjalankan ibadah puasa. Puasa berarti menahan keinginan daging atau hawa nafsu. Bulan puasa bukan hanya kewajiban untuk menahan rasa lapar dan dahaga, tetapi juga menahan amarah, menghapus dendam, dan yang terpenting adalah saat yang tepat untuk berubah menjadi insan yang lebih mulia.
Momen dimana seluruh umat muslim saling bermaaf-maafan dan berkumpul bersama keluarga ini, juga saya menfaatkan untuk berkumpul bersama kedua inspirasi hidup saya...Ribka Oyong dan Glory Rosary Oyong kedua kakak perempuan yang telah banyak mengajarkan saya tentang kehidupan dan kedewasaan. Kesibukan dan jarak yang memisahkan kami akhirnya tidak lagi menjadi masalah saat hari kemenangan itu tiba. Bagi kami yang bukan umat muslim, Idul Fitri juga kami isi dengan berlibur dan berkumpul bersama keluarga tercinta. Kegembiraan yang sama juga kami rasakan.
Sebuah iklan di televisi tiba-tiba menggetarkan hati saya. Iklan itu menggambarkan rasa terima kasih kepada orang-orang dengan berbagai profesi yang tidak dapat berkumpul bersama keluarga saat Idul Fitri karena pekerjaan dan ketulusan hati mereka. Digambarkan bagaimana mereka ikut menyuarakan gema takbir sambil mengerjakan pekerjaan mereka sebagai penjaga rel kereta, dokter di pos mudik, pedagang jalanan dan sebagainya. Diakhir iklan tersebut, dikatakan demikian “Karena ketulusan hati merekalah kita dapat berlebaran.” Seketika saya terdiam dan kembali berpikir. Ternyata jawaban dari semua pertanyaanku terjawab sudah. Idul Fitri adalah soal ketulusan hati bukan soal baju baru, makanan enak, jalan-jalan, dan sebagainya. Banyak orang yang kelihatannya dari luar merayakan kemenangan, tetapi tidak menang dalam arti sesungguhnya. Kemenangan yang sejati adalah ketika kita dapat menang dari segala keinginan daging dan hawa nafsu setiap harinya dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya satu bulan saat bulan puasa tiba. Kemenangan sejati juga berarti memberi maaf dan meminta maaf kapanpun bukan hanya saat Idul Fitri tiba.
Kemenangan sesungguhnya adalah ketika kita dapat berbagi dan dapat membuat orang lain merasakan kemenangan yang serupa. Berbagi kasih, berbagi kebahagiaan, dan berbagi kemenangan.
bagus mba tulisannya.
BalasHapusNikmati Bonus-Bonus Menarik Yang Bisa Anda Dapatkan Di Situs Kami LegendaPelangi.com
BalasHapusSitus Resmi, Aman Dan Terpercaya ^^
Kami Hadirkan 7 Permainan 100% FairPlay :
- Domino99
- BandarQ
- Poker
- AduQ
- Capsa Susun
- Bandar Poker
- Sakong Online
Fasilitas BANK yang di sediakan :
- BCA
- Mandiri
- BNI
- BRI
- Danamon
Ayo buktikan sendiri dan menangkan jutaan rupiah
Untuk info lebih jelas silahkan hubungi CS kami
-BBM : 2AE190C9
-Loginsite : Legendapelangi.com